Pengertian Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwah Insaniyah - FATHURHOMA corp.
Headlines News :

Labels

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani
Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

aku

Foto Saya
ponorogo, Indonesia
Peduli, Ikhlas, Cerdas

Download

Home » » Pengertian Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwah Insaniyah

Pengertian Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwah Insaniyah

Written By TEAMHORE on Senin, 09 April 2012 | 07.18

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwah Insaniyah
Sungguh bahwa allah SWT menempatkan manusia keseluruhan sebagai Bani Adam dalam kedudukan yang mulia, "Walaqad karramna Bani Adam."(Q/17:70). Manusia diciptakan Allah SWT dengan identitas yang berbeda-beda agar mereka saling mengenal dan saling memberi manfaatyang satu dengan yang lainnya (Q/49:13). Tiap-tiap umat diberi aturan dan jalan (yang berbeda), padahal seandainya Tuhan mau,seluruh manusia bisa disatukan dalam kesatuan umat. Allah SWTmenciptakan perbedaan itu untuk memberikan peluang berkompetisi secara sehat dalam menggapai kebajikan, "fastabiqulkhairat."(Q/5:48). Oleh karena itu sebagaimana dikatakan oleh rasul SAW, agar seluruh manusia itu menjadi saudara antara satu dengan yang lainnya, "Wakunu 'ibadallahi ikhwana."(Hadist Bukhari).
Dalam bahasa arab, ada kalimat "ukhuwah."(Persaudaraan), ada kalimat "ikhwah"(saudara seketurunan) dan "ikhwan" (saudara bukan seketurunan). Dalam Al-Qur'an, kata akh (saudara) dalam bentuk tunggal ditemukan sebanyak 52 kali. Kata ini dapat berarti saudara kandung (QS. An-Nisa' :23), saudara yang dijalin oleh ikatan keluarga (QS. Thaha : 29-30), saudara dalam arti sebangsa, walaupun tidak seagama (QS. Al-A'raf : 65), saudara semasyarakat, walaupun berselisih paham (QS. Shad : 23), persaudaraan seagama (QS. Al-Hujurat : 10). Di samping itu ada istilah persaudaraan lain yang tidak disebutkan dalam Al-Qur'an yaitu saudara sekemanusiaan (ukhuwah insaniyah) dan saudara semakhluk dan seketundukan kepada allah.Quran bukan hanya menyebut persaudaraan kemanusiaan (ukhuwah insaniyyah) tetapi bahkan menyebut binatang dan burung sebagai umat seperti manusia (Q/6:38). Sebagai saudara semakhluk (ukhuwah makhluqiyah) Istilah "ukhuwah islamiyah." Bukan bermakna persaudaraan antara orang-orang Islam, tetapi persaudaraan yang didasarkan pada ajaran Islam atau persaudaraan yang bersifat islami. Oleh karena itu cakupannya "ukhuwah Islamiyyah"bukan hanya menyangkut sesama orang Islam namun juga menyangkut dengan non Muslim bahkan makhluk yang lainnya. Misalnya, seorang pemiliki kuda, tidak boleh membebani kudanya dengan beban yang melampaui batas kewajaran. Ajaran ini termasuk ajaran ukhuwwah Islamiyyah. Bagaimana seorang muslim bergaul dengan kuda miliknya.
Dari ayat-ayat tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa Quran dan Hadist sekurang-kurangnya memperkenalkan empat macam ukhuwah yaitu:
1. Khuwah 'ubudiyyah: Persaudaraan karena sesama makhluk yang tunduk kepada Allah SWT.
2. Ukhuwah Insaniyyah atau basyariyyah: Persaudaraan karena sama-sama manusia secara keseluruhan.
3. Ukhuwah wathaniyyah wa an nasab: Persaudaraan karena keterikatanketuruanan dan kebangsaan.
4. Ukhuwah diniyyah, persaudaraan karena seagama.
Bagaimana ukhuwah berlangsaung, tak lepas dari faktor penunjang.Faktor penunjang signifikan membentuk persaudaraan adalah persamaan. Semakin banyak persamaan, baik persamaan rasa maupun persamaan cita-cita maka semakin kokoh ukhuwahnya. Ukhuwa biasanya melahirkan aksi solidaritas. Contohnya diantara kelompok masyarakat yang sedang berselisih, segera terjalin persaudaraan ketika semuanya menjadi korban banjir, karena banjir menyatukan perasaan, yakni sama-sama merasa menderita. Kesamaan perasaan itu kemudian memunculkan kesadaran untuk saling membantu.
“Hai manusia! Kami ciptakan kamu dari satu pasang laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kamu beberapa bangsa dan suku bangsa, supaya kamu saling mengenal [bukan supaya saling membenci, bermusuhan]. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu dalam pandangan Allah ialah yang paling bertakwa. Allah Mahatahu, Maha Mengenal (Q.s. Al-Hujurat [49]: 13)
Manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Suku, ras dan bangsa mereka merupakan nama-nama untuk memudahkan, sehingga dengan itu kita dapat mengenali perbedaan sifat-sifat tertentu. Di hadapan Allah SwT mereka semua satu, dan yang paling mulia ialah yang paling bertakwa. Antara persaudaraan iman dan persaudaraan nasional atau kebangsaan tidak perlu terjadi persoalan alternatif, ini atau itu, tetapi sekaligus all at once. Seorang Muslim menjadi nasionalis dengan paham kebangsaan yang diletakkan dalam kerangka kemanusiaan universal. Dengan demikian ketika seorang Muslim melaksanakan ajaran agamanya, maka pada waktu yang sama ia juga mendukung nilai-nilai baik yang menguntungkan bangsanya.

B. Upaya Meningkatkan Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwah Insaniyah
Supaya ukhuwah islamiyah dapat tegak dan kokoh, maka tidak hanya dengan perasaan atau perkataan saja, diperlukan empat tiang penyangga yaitu:
1. Ta’aruf adalah saling kenal mengenal yang tidak hanya bersifat fisik ataupun biodata ringkas belaka, tetapi lebih jauh lagi menyangkut latar belakang pendidikan, budaya, keagamaan, pemikiran, ide-ide, cita-cita serta problema kehidupan yang dihadapi.
2. Tafahum adalah saling memahami kelebihan dan kekurangan, kekuatan dan kelemahan masing-masing, sehingga segala macam kesalah pahaman dapat dihindari.
3. Ta’awun adalah saling tolong menolong, dimana yang kuat menolong yang lemah dan yang mempunyai kelebihan menolong yang kekurangan, dengan konsep ini maka kerjasama akan tercipta dengan baik dan saling menguntungkan sesuai fungsi dan kemampuan masing-masing.
4. Takaful adalah saling memberi jaminan, sehingga menumbuhkan rasa aman, tidak ada rasa khawatir dan kecemasan menghadapi hidup ini.
Dengan empat sendi persaudaraan tesebut umat islam akan saling mencintai dan bahu membahu serta tolong menolong dalam menjalani dan menghadapi tantangan kehidupan, bahkan mereka sudah seperti satu batang tubuh yang masing-masing bagian tubuh akan ikut merasakan penderitaan bagian tubuh lainnya. Seperti pada hadits Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim yang artinya ’’Perumpamaan orang-orang beriman dalam sayang menyayangi, cinta mencintai dan tolong menolong sesama mereka seperti satu batang tubuh, yang apabila salah satu batang tubuh menderita sakit, maka seluh badan akan merasakan sakit pula karena tidak dapat tidur dan panas (H. R. Bukhori dan Muslim).
Supaya ukhuwah islamiyah tetap erat dan kuat, maka setiap muslim harus dapat menjauhi segala sifat dan perbuatan yang dapat merusak dan merenggangkan ukhuwah tersebut, sesudah menyatakan bahwa orang-orang beriman itu bersaudara, Allah SWT melarang orang-orang beriman untuk melakukan beberapa hal yang dapat merusak dan merenggangkan ukhuwah islamiyah.
Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) bukanlah teori. Ini adalah ajaran praktis yang bisa kita lakukan dalam keseharian. Karena itu, nikmatnya ukhuwah tidak akan bisa kita kecap, kecuali dengan mempraktikannya. Jika delapan cara di bawah ini dilakukan, Anda akan merasakan ikatan ukhuwah Anda dengan saudara-saudara seiman Anda semakin kokoh.
1. Katakan bahwa Anda mencintai saudara Anda
Rasulullah saw. bersabda, “Apabila seseorang mencintai saudaranya, hendaklah dia mengatakan cinta kepadanya”. (Abu Dawud dan Tirmidzi, hadits shahih)
2. Minta didoakan dari jauh saat berpisah
Umar bin Khaththab berkata, Aku minta izin kepada Nabi Muhammad saw. untuk melaksanakan umrah, lalu Rasulullah saw. mengizinkanku. Beliau bersabda, “Jangan lupakan kami, wahai saudaraku, dalam doamu.” Kemudian ia mengatakan satu kalimat yang menggembirakanku bahwa aku mempunyai keberuntungan dengan kalimat itu di dunia. Dalam satu riwayat, beliau bersabda, “Sertakan kami dalam diamu, wahai saudaraku “. (Abu Dawud dan Tirmidzi, hadits hasan shahih)
3. Bila berjumpa, tunjukkan wajah gembira dan senyuman
Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah kamu meremehkan kebaikan apapun, walaupun sekadar bertemu saudaramu dengan wajah ceria”. (Muslim)
4. Berjabat tangan dengan erat dan hangat
Berjabat tanganlah acapkali bertemu. Sebab, Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada dua orang muslim yang berjumpa lalu berjabat tangan melainkan keduanya diampuni dosanya sebelum berpisah.” (Abu Dawud)
5. Sering-seringlah berkunjung
Nabi Muhammad saw. bersabda, “Allah swt. berfirman, Pasti akan mendapat cinta-Ku orang-orang yang mencintai karena Aku, keduanya saling berkunjung karena Aku, dan saling memberli karena Aku. “ (Imam Malik dalam Al-Muwaththa)
6. Ucapkan selamat saat saudara Anda mendapat kesuksesan
Anas bin Malik berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa bertemu saudaranya dengan membawa sesuatu yang dapat menggembirakannya, pasti Allah akan menggembirakannya pada hari kiamat”. (Thabrani dalam Mu’jam Shagir)
7. Berilah hadiah terutama di waktu-waktu istimewa
Hadits marfu’ dari Anas bahwa, “Hendaklah kamu saling memberi hadiah, karena hadiah itu dapat mewariskan rasa cinta dan menghilangkan kekotoran hati”. (Thabrani)
8. Berilah perhatian dan bantu keperluan Saudara Anda
Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang melepaskan kesusahan seorang mukmin di dunia niscaya Allah akan melepaskan kesusahannya di akhirat. Siapa yang memudahkan orang yang kesusahan, niscaya Allah akan memudahkan (urusannya) di dunia dan di akhirat. Siapa yang menutupi (aib) seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan di akhirat. Dan Allah selalu menolong hamba-Nya jika hamba tersebut menolong saudaranya”. (Muslim).
Dari ayat 11 dan 12 surat Al-Hujurat, ada enam hal yang harus kita hindari agar ukhuwah islamiyah tetap terpelihara: Pertama, memperolok-olokan, baik antar individu maupun antar kelompok, baik dengan kata-kata maupun dengan bahasa isyarat karena hal ini dapat menimbulkan rasa sakit hati, kemarahan dan permusuhan. Manakala kita tidak suka diolok-olok, maka janganlah kita memperolok-olok, apalagi belum tentu orang yang kita olok-olok itu lebih buruk dari diri kita. Kedua, mencaci atau menghina orang lain dengan kata-kata yang menyakitkan, apalagi bila kalimat penghinaan itu bukan sesuatu yang benar. Manusia yang suka menghina berarti merendahkan orang lain, dan iapun akan jatuh martabatnya. Ketiga, memanggil orang lain dengan panggilan gelar-gelar yang tidak disukai. Kekurangan secara fisik bukanlah menjadi alasan bagi kita untuk memanggil orang lain dengan keadaan fisiknya itu. Orang yang pendek tidak mesti kita panggil si pendek, orang yang badannya gemuk tidak harus kita panggil dengan si gembrot, begitulah seterusnya karena panggilan-panggilan seperti itu bukan sesuatu yang menyenangkan. Memanggil orang dengan gelar sifat yang buruk juga tidak dibolehkan meskipun sifat itu memang dimilikinya, misalnya karena si A sering berbohong, maka dipanggillah ia dengan si pembohong, padahal sekarang sifatnya justru sudah jujur tapi gelar si pembohong tetap melekat pada dirinya. Karenanya jangan dipanggil seseorang dengan gelar-gelar yang buruk.Keempat, berburuk sangka, ini merupakan sikap yang bermula dari iri hati (hasad). Akibatnya ia berburuk sangka bila seseorang mendapatkan kenimatan atau keberhasilan. Sikap seperti harus dicegah karena akan menimbulkan sikap-sikap buruk lainnya yang bisa merusak ukhuwah islamiyah. Kelima, mencari-cari kesalahan orang lain, hal ini karena memang tidak ada perlunya bagi kita, mencari kesalahan diri sendiri lebih baik untuk kita lakukan agar kita bisa memperbaiki diri sendiri. Keenam, bergunjing dengan membicarakan keadaan orang lain yang bila ia ketahui tentu tidak menyukainya, apalagi bila hal itu menyangkut rahasia pribadi seseorang. Manakala kita mengetahui rahasia orang lain yang ia tidak suka bila hal itu diketahui orang lain, maka menjadi amanah bagi kita untuk tidak membicarakannya.
Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa ketika ukhuwah islamiyah kita dambakan perwujudannya, maka segala yang bisa merusaknya harus kita hindari. Bila ukhuwah sudah terwujud, yang bisa merasakan manfaatnya bukan hanya sesama kaum muslimin, tapi juga umat manusia dan alam semesta, karena Islam merupakan agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Karenanya mewujudkan ukhuwah Islamiyah merupakan kebutuhan penting dalam kehidupan ini.
Petunjuk al-Quran tentang ukhuwah
1. Tetaplah berkompetisi secara sehat dalam melakukan kebajikan, meski mereka berbeda agama, ideologi, status: "fastaqul khairat."(Q/5:48). Jangan berfikir menjadi manusia dalam kesaragaman, memaksa orang lain untuk berpendirian seperti kita. Misalnya, Allah SWT menciptakan kita perbedaan sebagai rahmat, untuk menguji mereka siapa diantara mereka yang memberikan kontribusi terbesar dalam kebajikan.
2. Memelihara amanah (tanggung jawab) sebagai khalifah Allah dimuka bumi, dimana manusia dibebani keharusan menegakkan kebenaran dan keadilan (Q/38:26). Serta memelihara keseimbangan lingkungan alam (Q/112:4).
3. Kuat pendirian tetapi menghargai pendirian orang lain "lakum dinukum wliyadin." (Q/112:4). Tidak perlu bertengkar dengan asumsi bahwa kebenaran akan terbuka nanti dihadapan Allah SWT(Q/42:15).
4. Meski berbeda ideologi dan pandangan tetapi harus berusaha mencari titik temu, "kalimatin sawa" tidak bermusuhan seraya mengakui eksistensi masing-masing(Q/3:64).
5. Tidak mengapa bekerjasa dengan pihak yang berbeda pendirian dalam hal kemaslahatan umum, atas dasar saling menghargai eksistensi, berkeadilan, dan tidak saling menimbulkan kerugian.(Q/60:8) Dalam hal kebutuhan pokok (mengatasi kelaparana, bencana alam, wabah penyakit). Solidaritas sosial dilaksanakan tanpa memandang agama, etnis dan identitas lainnya (Q/2:272).
6. Tidak memandang rendah kelompok lain, tidak pula meledek atau membenci mereka (Q/49:11)
7. Jika ada persilihan diantara kaum beriman, maka islahnya haruslah merujuk kepada petunjuk al-Quran dan Sunah Nabi SAW.(Q/4:59).

C. Kendala dan Pemaknaan yang Keliru dari Ukhuwah
Prinsip Ukhuwah bukan sesuatu utopis, bukan pula suatu hal yang mustahil diwujudkan, meskipun mewujudkannya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Setidaknya ada 3 kendala yang dihadapi setiap mukmin di dalam merealisasi nilai-nilai ukhuwah islamiyah, yaitu:
1. Jiwa Yang Tidak Dirawat.
Ukhuwah Islamiyah sangat erat dengan keimanan. Iman merupakan sentuhan hati dan gerakan jiwa; karenanya jiwa dan hati yang tidak diperhatikan atau jarang diperiksa atau tidak dibersihkan akan menjadi lahan subur bagi munculnya virus-virus jiwa yang membahayakan kalangsungan ukhuwah, seperti: takabur, hasud, dendam, cenderung menzholimi, kemunafikan dll.
2. Lidah Yang Tidak Dikendalikan.
Menjaga lidah dengan berkata baik dan jujur serta menjaui kata-kata merusak dan tercela, merupakan salah satu indikasi takwa kepada Allah swt. Firman Allah swt :
Wahai orang-orang beriman bertakwalah kepada Allah dan berkatalah dengan perkataan yang benar (Q.S. al-Ahzab: 70 ).Bahkan memelihara lidah merupakan tanda kesempurnaan iman, sabda Nabi saw : (Dan siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaknya ia berkata baik atau diam ).
3. Lingkungan Yang Kurang/Tidak Kondusif.
Kepribadian seseorang seringkali dibentuk dan dipengaruhi oleh lingkungannya. Apalagi seseorang yang tidak memiliki kemampuan ta’tsir (mempengaruhi orang lain), sehingga dengan mudah ia dipengaruhi lingkungan dimana ia harus berinteraksi. Oleh sebab iotu Allah memerintahkan Nabi saw untuk senantiasa bersabar bersama orang-orang yang multazim (komitmen) dengan ajaran Allah, senantiasa taqorrub (mendekatkan diri) kepada Allah swt, firmanNya:( Bersabarlah bersama mereka yang selalu berdoa kepada Allah di pagi dan petang hari, jangan sekali-kai engkau berpaling dari mereka) QS al-Kahfi: 28.
Bila kita melihat kenyataan umat dengan kacamata ilmu dienul Islam, kita akan melihat banyak kelompok yang menamakan dirinya pemersatu umat, tapi sebaliknya merusak ukhuwah lslamiyah. inilah kelompok yang keliru dalam memberi makna Ukhuwah. Misalnya:
1. Kaidah “yang penting tujuannya baik”
Ada yang berpendapat untuk menjalin ukhuwah lslamiyah memakai kaidah “yang penting tujuannya baik, tidak mengapa caranya berbeda”. Prinsip ini ibarat hati tanpa jasad, sebab syarat diterima amal ibadah adalah ikhlas karena Alloh dan mengikuti Sunnah Rasulullah. “Maka barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hndaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah.” (QS.Al-Kahfi:110).


2. Yang penting hasilnya
Prinsip yang penting hasilnya, adalah prinsip orang kafir dan hewan. “Dan orang-orang yang kafir itu bensenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang. (QS.Muhamad:12)
3. Berpegang umumnya orang.
Misalnya menjalin ukhuwah dengan mengadakan peringatan maulid nabi, drum band, dzikir bersama adalah budaya yang telah memasyarakat. Cara ini bukanlah cara untuk menjalin ukhuwah Islamiyah, tetapi menjauhkan umat dan yang haq dan mengajak umat berpecah-belah, kanena masing masing golongan ingin membanggakan dirinya dan merendahkan kelompok yang lain. “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-onang yang di muka bumi ini niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. (QS.Al-An’am:116)
4. Menjalin ukhuwah dengan mendirikan partai atau golongan (atau diatas satu partai/golongan)
Ini pun keliru, karena apabila umat diajak kepada golongan atau partai berarti hilang ukhuwah dan ganti “adawah” (permusuhan).
5. Cari persamaan dan jangan cari perbedaan .
Inilah kaidah hizbi, ingin mewujudkan ukhuwah lslamiyah dengan mencari kesamaannya dan mendiamkan kemungkaran. Syaikh lbnu Baz berkata, “Betul, kita wajib bekerja sama dalam hal yang kita sepakati untuk membela dan mendakwakan kebenaran serta mentahdzir yang menjadi larangan Alloh Subhanahu wa ta’ala dan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam,. Adapun hendaknya kita memberikan udzur dan membiarkan perselisihkan secara mutlak tidaklah bisa diterima.

6. Jangan menentang arus
Ada lagi yang berpendirian bahwa untuk menjaga keutuhan ukhuwah Islamiyah, jangan menyinggung perasaan umat, bangkitkan semangat mereka agar tetap menerima Islam. Lalu mereka berdalil dengan sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam : “Mudahkanlah dan jangan dipersulit, gembirakanlah dan jangan dibuat-lari.” (HR.Bukhari 1/38, Muslim 3/1359, dan Iainnya). Dalil di atas memang benar, tapi salah penerapan. Prinsip ini menolak perintah Alloh yang mengharuskan ingkar mungkar sebagaimana disebutkan dalam surat At-Taubah ayat 71 yang itu merupakan ciri khas orang mukmin.
7. Orang Yahudi dan Nasrani adalah saudara.
Orang yang mengatakan bahwa umat Islam harus menjalin ukhuwah dengan orang Yahudi dengan alasan mereka juga memeluk agama Islam, karena Islam artinya menyerah kepada Alloh Subhanahu wa ta’ala. Ketahuilah dia itu orang yang digaji oleh orang Yahudi untuk merusak Islam.Pada zaman Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. ada orang Yahudi yang mengaku dirinya muslim, lalu dibantah oleh beliau, “Kalau kamu mengatakan muslim, tunaikan ibadah haji!’ Mereka menjawab, “Kami tidak diwajibkan haji, bahkan menolak.”
8. Menjalin ukhuwah dengan ahlul bid’ah dan orang musyrik
Ada yang berkata, “Tidak mengapa mereka menjalankan bid’ah dan syirik, karena mereka juga beribadah, jika mereka keliru, kita pun keliru.” lnilah prinsipnya orang jahil, tidak mau tahu tentang batalnya amal dan gugurnya Islam. Barangkali kalau dia mendengar cerita bahwa sahabat Ali bin Abi Thalib RadhiAllahu anhu membakar Syi’ah Råfidhåh yang menuhankan beliau, begitupun ketika beliau memerangi orang Khawarij, padahal mereka (khåwarij) adalah ahli dalam membaca Al-Qur’an, khusyuk shalatnya, hitam keningnya bahkan mereka ikut jihad.“Orang musyrik adalah musuh Alloh Subhanahu wa ta’ala , wajib dijauhi sebagaimana perintah-Nya : “Dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik(QS.Al Hijr:94).
D. Manfaat Ukhuwah Islamiyah
Banyak manfaat yang dapat kita nikmati dengan jalinan ukhuwah islamiyah yang kuat. Kita akan merasakan kehidupan bermasyarakat yang lebih harmonis. Perbedaan yang ada tidak akan menimbulkan pertentangan, justru akan menjadikan kehidupan kita semakin indah. Tingkat kesenjangan sosial dalam masyarakat juga akan terkikis dengan sendirinya. Hal ini karena semangat ukhuwah islamiyah yang menyatukan kita semua.
Selain itu, ada juga manfaat lain yang berhubungan dengan iman kita. Manfaat dari ukhuwah islamiyah yang kita terima sehubungan dengan tingkat keimanan kita diantaranya adalah:
1. Merasakan lezatnya iman
2. Mendapatkan perlindungan Allah di hari kiamat (termasuk dalam 7 golongan yang dilindungi)
3. Mendapatkan tempat khusus di surga (Q.S. 15:45-48)
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Relations

TOLONG DI LIKE YA

my acount info

Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net SEO Stats powered by MyPagerank.Net

.::Wis Ti Inceng::.

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. FATHURHOMA corp. - All Rights Reserved
Original Design by Creating Website Modified by Adiknya